Pakdhe Koplo

Sabtu, Agustus 08, 2009

Orang itu kalo lagi beruntung tidak seperti Pakdhe Koplo. Bayangkan saja, kreditnya sebesar lima puluh juta rupiah telah disetujui dan bisa segera diambil kalo transfer gajinya sudah terbukti masuk ke rekening bank itu. Ditambah lagi berita anak sulungnya lolos PMDK di Fakultas Teknik Sipil UNS. Dan yang paling membahagiakannya adalah ia memiliki pacar baru yang sungguh cantik jelita bak bidadari yang mendarat di bumi. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan pakdhe Koplo.

Pacar baru? Tidak salah! Walaupun Pakdhe Koplo telah menikah dan memiliki empat orang anak, namun ia adalah seorang penggemar berat daun muda. Dan untuk urusan yang satu itu pakdhe Koplo berani bersaing dengan siapa saja, dan ia rela berkorban apa saja untuk memenangkan persaingan itu. Konon, Pakdhe Koplo hapal benar berbagai macam tipe perempuan dan bagaimana menaklukkannya. Tidak hanya sekali dua kali kelakuan buruknya itu mengakibatkan ia didamprat istrinya yang super galak. Tapi Pakdhe Koplo punya ilmu topeng sakti. Dengan ilmu topengnya itu, Pakdhe Koplo bisa berpura-pura menyesal, sedih, menangis meraung-raung menciumi telapak kaki istrinya, dan melolong-lolong meminta ampun berhari-hari sampai hati istrinya luluh. Namun itu tidak lama, beberapa minggu kemudian, hobinya lirak-lirik daun muda itu akan kambuh lagi secara otomatis.

Sudah sebulan ini Pakdhe Koplo berteman dengan seorang perempuan jelita yang dikenalnya di stasiun Gambir. Tidaklah perlu diceritakan bagaimana mereka berkenalan, itu rahasia pakdhe Koplo yang tidak bisa dimengerti sembarang orang. Intinya, pakdhe Koplo kini mabuk kepayang terkena panah asmara si jelita. Bahkan pakdhe Koplo sudah berani apel ke rumah kos si Jelita sepulang kerja. Tentu saja, kata lembur, meeting, macet, dan sejenisnya menjadi pelindung setianya dari kecurigaan istrinya.

Sebagaimana layaknya orang yang sedang jatuh cinta, pakdhe Koplo sekonyong-konyong menjadi buta, tuli, dan dungu. Hanya saja tangannya semakin mahir berkelana, dan bibirnya lincah membual sana-sini mengobral janji dan berkata-bersyair elok mengalahkan cipta karya para Pujangga. Tapi siapa yang butuh syair? Pacaran itu ya butuhnya duit! Tak urung, pelan dan pasti isi kantong dan tabungan pakdhe Koplopun terkuras. Bagi pakdhe Koplo, uang habis tidaklah masalah, yang penting ia bisa berdekat-dekatan dengan si Jelita. Jer Basuki Mawa Bea, kata orang Jawa, keberhasilan memerlukan pengorbanan.

Si Jelita memang piawi bermain api. Kadang ia jinak bagai merpati, kadang ganas melilit bagai naga, dan kadang manja bagai anak babi. Ia permainkan hati pakdhe Koplo sampai batas kekuatannya, tarik-ulur, tarik-ulur, dan tarik-ulur. si Jelita bermain cantik, boleh pandang dan sedikit pegang, begitu aturan mainnya. Dan hanya itu! Sikap si Jelita membuat pakdhe Koplo semakin terengah-engah, penasaran dan tergila-gila, tapi ia tak mampu berbuat banyak. Akibatnya mulut pakdhe Koplo semakin ringan mengucap janji mengobral bualan, jiwa-raganyapun kian jauh meninggalkan keluarganya.

Akhirnya hari yang paling ditunggu-tunggu Pakdhe Koplo tiba: mencairkan uang pinjaman di Bank. Pagi-pagi betul Si Jelita telah dijemput untuk menemaninya akad kredit, bukan istrinya. Di depan petugas Bank ia akui si Jelita sebagai istrinya. Sret-sret, tanda tangan akad kredit dengan cepat dilakukan, dan lima puluh juta rupiahpun segera memenuhi tas si Jelita.

"Kamu yang bawa, untuk pantes-pantesnya.", kata Pakdhe Koplo genit mengedipkan sebelah matanya pada si Jelita.

Senyum mengembang di bibir sejoli haram itu. Bukannya pulang ke rumah atau menyetor uangnya ke Bank, Pakdhe Koplo malah belanja seharian. Di akhir hari, sepuluh juta rupiah bablas menjadi gelang, kalung, cincin, anting, dan jam tangan untuk si Jelita. Ciuman kecil yang mendarat di pipi kiri-kanan Pakdhe Koplo membuatnya semakin dungu. Akhirnya acara diteruskan dengan pulang ke kost si Jelita.

"Minum dulu mas", si Jelita tersenyum manis menyuguhkan sirup dingin untuk pakdhe Koplo.

Pakdhe Koplo tersenyum bahagia. Dalam hitungan detik, segelas sirup itu mengalir, membasahi, dan menyegarkan kerongkongannya yang kering...



Suara adzan subuh membangunkan pakdhe Koplo. Gelap gulita. Kepalanya berdenyut, sakit dan pusing. Limbung pakdhe Koplo bangun dari sofa, langkahnya tertatih, tangannya menggapai-gapai mencari saklar lampu. Begitu lampu menyala, ia dapatkan jam dinding menunjukkan pukul 4:40 pagi. Rasa kagetnya membuat kesadaran dan kekuatannya kembali. Ia segera bergegas mencari si Jelita di dalam rumah, di luar rumah, di jalan-jalan, di kebun-kebun, tapi ia tidak menemukan jejak si Jelita, tidak juga tasnya. Hati pakdhe Koplo tercekat. Bayangan uang lima puluh juta rupiah dan si Jelita silih berganti memenuhi batok kepalanya. Bayangan itu berganti dengan cepat, semakin cepat, dan semakin cepat. Pakdhe Koplo pingsan untuk kedua kalinya.

Pembaca yang budiman, Orang itu kalo sedang sial tidak seperti Pakdhe Koplo. Bayangkan saja, selama lima tahun kedepan ia harus mencicil hutangnya ke Bank tiap bulan, hutang yang tak sepeserpun dinikmatinya. Belum lagi Pakdhe Koplo harus berusaha keras membayar uang kuliah anaknya yang diterima di Fakultas Teknik Sipil UNS. Pakdhe Koplo juga harus menghadapi amukan istrinya yang pasti marah besar. Dan yang paling menyedihkan adalah, hari ini Pakdhe Koplo telah kehilangan si Jelita yang perwujudannya bagaikan Bidadari yang mendarat di bumi. Maka lengkaplah sudah kesengsaraan pakdhe Koplo.

[+/-] Selengkapnya...

Biduan Pujaan

Sabtu, Agustus 01, 2009

Konon, kata sahibul hikayat, hanya ada dua waktu yang paling disukai para Karyawan. Yang pertama adalah waktu gajian, dan yang kedua adalah waktu pulang kerja. Namun bagi Gambleh, pulang kerja tepat pada waktunya bukanlah hal yang favorit, setidak-tidaknya dalam dua pekan terakhir ini. Di saat rekan-rekannya sibuk ngantri di depan mesin absen sidik jari 10 menit sebelum jam kerja berakhir, Gambleh masih saja memelototi komputer di meja kerjanya. Ia baru akan pulang satu jam setelah jam kerja berakhir. Gambleh sama sekali tidak bermaksud untuk lembur, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk pulang kantor.

Karena statusnya yang seorang jomblo kesepian, maka tak ada barang sesuatupun di dunia ini yang bisa melarang Gambleh keluyuran sepulang kerja. Biasanya, Gambleh akan keluyuran di Mall-mall dengan maksud yang sebenar-benarnya adalah untuk mencari jodoh yang tak juga kunjung datang. Namun dua minggu belakangan, Gambleh mulai meninggalkan Mall. Ia merasa sangat berbahagia apabila tiba di stasiun Tebet tepat waktu. Bukan untuk naik kereta kosong ke Bogor, tetapi semata-mata untuk menjumpai wanita pujaan hatinya.

Wanita pujaan Gambleh itu sesungguhnya adalah seorang Biduan Dangdut yang selalu "manggung" di stasiun Tebet selepas maghrib sampai menjelang Isya. Ia ditemani crew dangdutnya yang terdiri dari seorang pemain keyboard, seorang pemain ketipung, seorang pemain gitar dan seorang operator sound system merangkap Operator Kantong Permen. Disebut demikian, karena pada lagu kedua, Sang Operator akan mulai berjalan dari satu sudut stasiun ke sudut yang lain membawa kantong bekas permen Relaxa kosong untuk meminta uang saweran kepada para calon penumpang kereta api yang menunggu di sepanjang peron stasiun.

Sang Biduan itu tidak tinggi dan tidak pendek. Berkulit kuning langsat, berambut lurus sebahu, dan selalu memakai celana jeans biru dan t-shirt putih yang ketat. Badannya yang padat berisi tergambar jelas dalam pakaian seperti itu, dan hal itu membuat mata Gambleh jarang berkedip. Gaya menyanyinya sederhana saja, tidak sebinal Inul Daranista dan tidak seganas Dewi Persik. Paling-paling hanya sekedar goyang bahu atau goyang sebelah kaki. Tapi bagi Gambleh, itu sudah lebih dari cukup untuk menciptakan bayangan-bayangan gila di otak kotornya.

Pada mulanya, Gambleh masih bisa menahan diri untuk tidak ikutan joget bersama Biduan itu, walaupun hatinya melonjak-lonjak terbakar asmara. Memang suatu kebetulan bahwa Biduan dan Crewnya berada di sisi yang berseberangan dengan peron tempatnya menunggu kereta ke Bogor. Tapi tak urung, lama-lama Gambleh terhanyut juga, kepalanya bergoyang-goyang mengikuti irama, kemudian tangan dan kakinya mulai ikut bergerak, dan akhirnya seluruh tubuhya bergoyang, tak peduli pada ratusan calon penumpang lain di sekelilingnya.

Gambleh memang tidak salah bila sampai jatuh hati pada Biduan itu. Selain tubuhnya yang bagus, suaranya juga sangat merdu. Dan bagi Gambleh, suara itu laksana belaian yang lembut, meliuk, menukik, berputar-putar sebelum akhirnya menembus dan membuai hatinya yang kesepian. Ia begitu terkesima pada Biduan itu, sehingga tak kurang dari lima ribu perak selalu ia pindahkan dari kantongnya ke kantong permen Sang Operator.

Dalam waktu singkat, Sang Biduan tahu kalo Gambleh adalah donatur tertinggi di stasiun Tebet. Maka di hari-hari berikutnya ia melambaikan tangan dan mengedipkan mata pada Gambleh yang bergoyang-goyang sendirian di seberang peron. Demikianlah, Gambleh dan biduan itu semakin hari semakin dekat dan semakin lengket, menyanyi dan berjoget bersama. Tentu saja, pajaknya juga bertambah dengan sendirinya, dua puluh ribu adalah saweran minimal Gambleh untuk Sang Biduan pujaan hatinya...




Sore itu Gambleh keasyikan main game Poke. Ketika sadar, ia sudah terlambat pulang satu jam dari biasanya. Sambil memaki dirinya sendiri, Gambleh cepat-cepat meninggalkan kantornya. Berharap masih bisa berjumpa dengan Biduan pujaan hatinya, Gambleh buru-buru naik ojek ke Stasiun Tebet. Hatinya galau; rasa rindu, cinta, dan khawatir bercampur-baur menjadi satu. Berkali-kali Gambleh mengkomando Si Tukang Ojek untuk memacu motornya secepat mungkin.

Sampai di stasiun, Gambleh lega karena sayup-sayup terdengar nyanyian Sang Biduan yang seolah melolong, merindu, dan memanggil-manggil Gambleh yang tak kunjung datang. Terdorong oleh rasa gembira, kangen, dan cinta yang membara, Gambleh buru-buru melompat dari ojek dan berlari melintasi rel menuju peron seberang. Di pikirannya hanya ada Sang Biduan pujaan. Malam ini ia bertekat akan memberikan seratus ribu rupiah untuk Sang Pujaan Hati sebagai hukuman atas keterlambatannya. Wajah Gambleh merona cerah, senyumnya mengembang, tangannya melambai-lambai, dan matanya tak berkedip memandang Sang Biduan pujaan di peron seberang. Pada saat yang bersamaan, dari arah Jakarta meluncur kereta api Depok Express berbobot 320 ton berkecepatan 110 km per jam. Dan semua orang di stasiun Tebet bahkan tak lagi sempat membuka mulut mereka untuk memberi peringatan.....

[+/-] Selengkapnya...

Bila Kegelapan Mendatangimu

Sabtu, Juli 25, 2009

Di masa kecilku, aku memiliki rasa takut pada kegelapan seperti anak kecil pada umumnya. Hal itu berlangsung lama bahkan sampai aku sekolah di SD, sampai pada suatu malam, ayahku, Pendekar Seruling Sakti, merubah rasa takut itu menjadi sebuah keberanian, keindahan, dan harapan baru.

“Bangunlah, nak. Sudah saatnya kutunjukkan padamu sebuah rahasia yang tersembunyi dari mata hati yang tertutup.”, kata ayahku membangunkanku di tengah malam yang gelap dan dingin di musim kemarau panjang tahun itu.

Berdua kami menyusuri jalan desa yang sepi dan berbatu menuju persawahan nan luas di sebelah timur desa kami. Dorongan rasa takut pada kegelapan, membuat tanganku terus berpegangan pada tangan kekar ayahku yang perkasa. “Perhatikan sekelilingmu Nak, dan cobalah untuk menepis rasa takut dari hatimu. Kamu akan segera menemukan bahwa kenyataan tidaklah semenakutkan bayangan gelap yang melingkupi hatimu itu.”, bisik ayahku menguatkan langkahku yang terasa semakin berat.

Sesampainya kami di bukit kecil di tengah persawahan yang luas itu, kamipun duduk di bawah pohon asam tua yang sudah setua jaman itu sendiri. “Perhatikan alam di sekitarmu baik-baik, nak. Dan cobalah untuk menyatu dengannya.”. kata ayahku sembari mengeluarkan seruling sakti yang terkenal di seantero jagat persilatan itu. Dengan lembut, ayahku meniup seruling itu memecah keheningan malam yang dingin dan gelap dengan irama meliuk menyentuh kalbu.

Ajaib, semakin aku memperhatikan sekelilingku, kusadari betapa indahnya alam persawahan di malam itu. Ribuan kunang-kunang yang berkelip indah di kegelapan malam dan cahaya jutaan bintang di langit yang hitam menjadikan malam itu terang-benderang. Desir tiupan angin dingin, suara gemericik air dari parit yang mengalir di tengah persawahan, dan merdunya irama seruling ayahku menambah syahdu suasana di malam itu. Pelan tapi pasti, ketakutan di hatiku mulai mencair, berubah menjadi ketenangan, kehangatan, dan perasaan tenteram yang sulit digambarkan. Sungguh, sebuah malam yang indah dan menghayutkan…

“Nak, lihatlah. Kunang-kunang telah menghilang, dan cahaya bintang mulai memudar. Sebentar lagi fajar kan datang menjelang.” Kata ayahku menyadarkanku. “Mari kita pulang.”, katanya lagi sambil berdiri.

“Anakku, jangan lagi mata hatimu tertutup oleh ketakutan pada kegelapan. Karena setiap kegelapan memiliki cahaya dan keindahannya sendiri. Hanya mata hati yang terbebas dari ketakutan yang mampu melihat keindahan itu. Ketakutan juga akan membuat hati kita sibuk dengannya, sehingga melupakan sang fajar harapan yang akan selalu datang di setiap penghujung malam.”, Kata ayahku sambil mengelus rambutku.

“Nak, dalam perjalanan hidupmu kelak, ujian kegelapan mungkin akan datang sekali waktu. Hadapilah dengan tersenyum dan tetap bergerak laksana gerak angin, bintang dan kunang-kunang, karena telah kau tahu, selalu ada keindahan malam dan fajar harapan disana. Keindahan dan fajar yang mungkin saja lebih baik dari hari kemarin dan hari kemarinnya lagi.”, lanjut ayahku sambil tersenyum. Dan sejak saat itu tak pernah lagi aku takut pada kegelapan...


Tulisan Terkait :

[+/-] Selengkapnya...

Mabok...

Sabtu, Juli 18, 2009

Hidup orang itu ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah. Seringkali orang tidak tahu kapan ia akan berada di atas atau kapan ia berada di bawah. Kalo lagi di atas, kehidupan akan terasa serba enak, semua kebutuhan tersedia, dan apa-apa bisa dibeli. Namun bila sedang di bawah, semuanya terasa serba kekurangan, serba sulit, dan serba salah. Nasib orang itu memang tak ada yang tahu, ibaratnya pagi hari masih kedelai, sore hari sudah jadi tempe.

Den Bei dan keluarganya hidup miskin bertahun-tahun lamanya. Walaupun gajinya bertambah setiap tahun, namun semakin lama gaji itu malah semakin tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Bagaimana tidak, gajinya naik paling banter 10% per tahun, sementara itu nilai inflasi melebihi prosentase kenaikan gajinya. Maka gajinya itupun semakin terseok-seok mengejar kebutuhan hidup yang semakin mahal. Sembako mahal, transportasi mahal, biaya sekolah mahal dan hutang Den Bei semakin menumpuk dari bulan ke bulan.

Den Bei mencoba ikut-ikut cari pinjaman di koperasi, siapa tahu bisa buat modal dagang kecil-kecilan di rumahnya. Begitu pinjaman cair, maka uang itu tak sempat berlama-lama di tangan Den Bei. Habis dalam sekejap untuk melunasi hutang-hutangnya, dan bayangan dagang di rumahpun amblas menyisakan potongan gaji dari bulan ke bulan. Tak urung istrinya hanya bisa melongo setiap akhir bulan, jatahnya dipotong payroll tanpa ampun.

Tapi Den Bei tidak pernah putus asa, ia selalu yakin bahwa dia akan sukses suatu hari nanti dan mencapai hidup enak sebelum usia tua. Sebenarya hal yang memotivasi Den Bei untuk selalu bersemangat adalah impiannya untuk memiliki sebuah kamar khusus yang akan digunakannya untuk main game kapan saja dia mau, sebuah kamar kedap suara yang dilengkapi dengan layar LCD besar, konsol game yang lengkap dan sound system yang dahsyat menggelegar. Maklumlah Den Bei adalah seorang maniak ding-dong di masa remajanya.

Dan akhirnya sampai jugalah saat yang ditunggu-tunggu itu, Den Bei diterima bekerja di sebuah pabrik makanan kelas atas di negeri ini, posisinya tak tanggung-tanggung: manager departemen purchasing! Den Bei megalahkan ratusan kandidat lain seantero negeri. Ia sangat bangga. Kini ia membawa mobil dinas kemana-mana, gajinya besar, bajunya berdasi, dan handphonenya sudah mirip komputer.

Semakin hari Den Bei semakin merasakan betapa basahnya departemen yang ia pimpin, hatinya senang, raut ketuaan di wajahnya mulai menghilang tertutup lemak yang mulai melapisi sekujur tubuhnya. Hubungannya dengan vendor semakin terjalin akrab dan hal itu membuat dirinya semakin happy.

Hal pertama-tama yang dilakukan Den Bei adalah meminta istrinya berhenti bekerja. Ia ingin istrinya kelihatan cantik sepanjang waktu dan tidak malu-maluin bila suatu saat harus ikut dirinya dalam kegiatan kantor. Di bulan kedua, semua hutangnya lunas tanpa tersisa, bahkan untuk beberapa temannya diberinya lebihan sebagai tanda terima kasih. Di bulan ketiga, sebuah sepeda motor baru bertengger di garasi rumahnya. Dan menginjak bulan kelima, impiannya memiliki studio game di rumahnya terkabul sudah. Dan ia menamainya dengan sebutan The Bunker.

Den Bei mulai keranjingan main game di bunkernya. Semua jenis game ia beli sebagai koleksi. Mulai dari tetris, balapan, sampai game strategy semua ia punya. Bila sedang asyik main game Den Bei tidak mau diganggu bahkan oleh istri dan anaknya sekalipun. Ia beruntung istri dan anaknya tidak ada satupun yang suka main game, mereka lebih suka shopping di mall melebihi apapun.

Begitulah, siang kerja, malam main game merupakan kegiatan wajib Den Bei sehari-hari. Ia bahkan memplesetkan lagu pok ame-ame belalang kupu-pupu menjadi siang kerja keras, kalo malam main game! Istri dan anaknya tak pernah peduli pada kegiatannya, yang penting bagi mereka sealu tersedia cukup uang untuk shopping, dan itu sudah cukup.

Memasuki bulan kedelapan, perusahaan mulai mencium ketidakberesan pada kinerja Den Bei. Sering terlambat dan tidak masuk kerja dengan berbagai alasan mewarnai hari-harinya. Operasional purchasing mulai terganggu gara-gara approval yang terlambat, dan jarangnya dilakukan evaluasi kerja mingguan. Beberapa departemen lain mulai mengeluhkan kinerja departemen purchasing. Rapat koordinasi seringkali berjalan dalam kebuntuan karena ketidakhadiran Den Bei.

Management cepat bertindak, Den Bei dipanggil menghadap. Sehari, seminggu, dua minggu den bei mulai tertib kembali, namun memasuki minggu ketiga, kegemarannya pada game mengalahkan segalanya. Ia kembali sering terlambat dan tidak masuk kerja. Den Bei lupa daratan dan melupakan hal terpenting dalam hidupnya: sumber penghasilan dan pengorbanan.

Akhirnya Den Bei hanya bisa bertahan sampai akhir bulan kesepuluh. Kini ia dan isrinya tak lagi punya sumber penghasilan. Den Bei sempat sedih sebentar, namun segera terhibur dengan koleksi game yang dimilikinya. Ia optimis bahwa suatu hari nanti ia akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Ia mulai mengirimkan lamaran kemana-mana, tapi kini saingan di luar semakin banyak, dan kesempatannya semakin tipis.

Tiga bulan berlalu sudah dan Den Bei masih tetap menganggur. Tapi hal itu tak terlihat merisaukan hatinya. Main game jalan terus. Omelan istrinya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Semakin hari tabungan Den Bei semakin menipis. Tapi keasyikannya main game telah membuat Den Bei buta dan tuli terhadap kondisi keuangannya.

Pelan tapi pasti putaran roda kehidupan Den Bei dan keluarganya membawa mereka kembali ke bawah. Kehidupan mereka kembali sulit, serba susah, dan serba salah. Istrinya sudah kembali bekerja, namun Den Bei masih menganggur. Bunkernya telah lama kosong melompong, isinya sudah ditukarkan dengan kebutuhan sehari-hari yang semakin hari semakin mahal. Tapi Den Bei tetap optimis, suatu hari bunker itu akan terisi kembali dengan perangkat yang jauh lebih baik, dan ia semakin gencar melamar kerja kemana-mana. Ia harus memutar roda ke posisi atas, harus dan harus...

Demikianlah, nasib orang itu memang tak ada yang tahu, ibaratnya pagi hari masih kedelai, sore hari sudah jadi tempe....

[+/-] Selengkapnya...

Hantu!

Sabtu, Juli 11, 2009

Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa di pedesaan banyak memedi (hantu), apalagi di jaman dulu saat listrik belum masuk. Hampir tiap hari, di sekolah dan di tempat-tempat umum di desaku ada saja yang bercerita tentang memedi itu. Makanya, walaupun aku ini seorang penakut, namun sudah terbiasa mendengar cerita menakutkan tentang memedi itu dan juga tahu berjenis-jenis memedi yang hidup di sekitar desaku.

Bila kamu mengira memedi hanya muncul di malam hari, maka perlu aku sampaikan, bahwa memedi di desaku itu tidak pernah peduli pada hal itu, mereka bisa saja menampakkan diri di malam atau siang hari. Frekuensi kemunculan mereka di malam hari hanya beda-beda tipis dibandingkan pemunculan mereka di siang hari. Bahkan, kalo kamu mengira bahwa memedi hanya muncul di saat sepi atau saat orang sedang sendirian, itu juga kurang tepat. Karena ada juga memedi yang justru seolah-olah ingin dilihat orang ramai.

Memedi yang paling menghebohkan sepanjang sejarah di desaku adalah memedi oncor (hantu obor). Memedi itu menurut cerita orang-orang tua, muncul beberapa waktu sebelum dan sesudah peristiwa G30S. Pemunculan pertama memedi itu hampir bersamaan dengan penampakan Lintang Gubug Penceng (Bintang Biduk Besar) yang menyala terang dan kelihatan dekat sekali di langit sebelah tenggara. Memedi oncor selalu muncul setelah maghrib, di sebelah selatan desaku. Mula-mula terlihat di tengah sawah sebuah obor yang muncul dari dalam tanah. Kemudian diikuti oleh obor-obor yang lain satu demi satu sampai jumlahnya puluhan-ratusan dan bahkan mungkin juga ribuan. Obor-obor itu kemudian berputar-putar sambil mengeluarkan suara riuh-rendah namun tidak jelas. Kadang mendekat dan kadang menjauh dari desa. Kalo ada penduduk desa yang memberanikan diri mendekati obor-obor itu, anehnya obor-obor itu akan menjauh dan menjaga jarak. Kalo orang-orang yang mendekat itu kembali ke desa, obor-obor itu juga akan mendekat kembali. Sampai menghilangnya hantu obor itu sampai sekarang, tidak ada seorangpun yang pernah tahu bentuk sebenarnya dari memedi itu, kecuali nyala obor di kejauhan dan suara yang riuh-rendah....

Di belakang rumah kakekku, dulu tumbuh sebatang pohon Kolang-kaling (Pohon Aren). Di pohon itulah tinggal mahluk halus yang disebut Wewe Gombel. Wewe itu kalo menampakkan diri, selalu di siang hari dalam bentuk wanita telanjang dada, berambut panjang terurai namun awut-awutan (tak tertata) yang menutupi wajahnya dan berpayudara panjang sampai ke tanah. Disebut Wewe Gombel karena Wewe itu memiliki gombal (kain) yang ajaib. Barang siapa yang bisa memiliki gombalnya si Wewe itu, maka dia akan bisa menghilang dengan cara menutupi kepalanya dengan gombal si Wewe itu. Aku jadi ingat film Harry Potter dengan jubah menghilangnya itu, jangan-jangan jubah Harry Potter itu tak lain adalah gombalnya Wewe yang tinggal di pohon Kolang-kaling belakang rumah kakekku tempo dulu... :-)


Wewe itu biasanya akan menampakkan diri hanya pada anak-anak saja yang kebetulan main-main di dekat situ, konon si Wewe itu menginginkan anak untuk disusui dengan payudaranya yang luar biasa itu. Anak yang sudah disusui Wewe itu akan bisa menghilang dan bergerak secepat angin. Ia juga akan diberi Popok Wewe yang akan menjadikannya selalu beruntung dan kaya raya. Aku atau teman-temanku sering melihat Wewe itu kalo sedang main di belakang rumah kakekku, namun anehnya hanya satu anak saja yang bisa melihat. Kalo sudah begitu ya kami akan lari tungang-langgang. Aku memang terobsesi memiliki kesaktian semacam itu, tapi siapa sih yang mau nyusu ke Wewe itu....

Aku dan teman-temanku juga sering mencari Jangkrik (cengkerik) atau Belut di sawah di malam hari. Kami menggunakan obor untuk penerangan. Awalnya kami akan mencari di persawahan sekitar desa, tapi lama-lama pasti akan makin ke tengah menjauhi pedesaan. Walaupun jarang, cepat atau lambat kami pasti ketemu dengan berbagai memedi. Yang paling sering adalah Keblak, memedi ini tidak berwujud, tetapi hanya berupa suara saja. Suaranya seperti benda jatuh, sangat keras dan terasa dekat sekali: Bluugg!!! atau juga Memedhon yang muncul tiba-tiba di grumbul (semak-semak dengan pepohonan di tengah sawah) dekat sungai.

Saat mencari Jangkrik atau belut di sawah, tidak jarang kami juga melihat Clorot, yaitu seberkas sinar yang terbang meluncur seperti meteor besar dari satu lokasi ke lokasi lainnya di tengah sawah atau tempat angker semacam kuburan tua. Kalo itu sih dapat dipastikan bukan memedi, tetapi Tosan Aji atau Wesi Aji, yaitu senjata pusaka yang ora omah (tidak memiliki tuan). Clorot itu warnanya juga macam-macam. Ada yang merah menyala, ada yang biru kehijauan seperti cahaya bintang, atau juga kuning keputihan yang menyilaukan.

Kata orang-orang tua, Clorot itu kebanyakan adalah senjata pusaka kuno dari jaman kerajaan dahulu kala dan akan selalu berpindah-pindah mencari orang yang tepat untuk disuwitani (diikuti). Sebenarnya tidaklah susah untuk mendapatkan tosan aji itu, cukup bersemedi di malam-malam tertentu di tempat-tempat angker yang biasa terdapat Clorot, dan pasti akan ada salah satu senjata pusaka yang mendatangi. Tapi hati-hati karena senjata pusaka itu bisa datang dalam bentuk apa saja: ular besar, macan, singa, beruang atau bahkan wanita cantik. Kalo kuat menghadapi mereka maka dipastikan mereka akan ikut, tapi kalo kalah: apabila tidak kehilangan nyawa pasti orang itu akan menjadi gila...


Tulisan Terkait :
>>> Kisah Kebon Suwung
>>> Senjata Sakti


[+/-] Selengkapnya...